Ketika Nabi Adam dan Nabi Musa Berdebat

75


Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihain dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, RAsulullah SAW bersabda, “Adam dan Musa berdebat di sisi Allah, lalu Adam mengalahkan Musa. Musa berkata, ‘Engkau Adam yang diciptakan Allah dengan Tangan-Nya, Allah meniupkan kepadamu sebagian ruh (ciptaan)-Nya, memerintahkan para malaikat bersujud padamu, dan menempatkanmu di surga, lalu kau menurunkan manusia ke bumi karena kesalahanmu?’

Adam kemudian berkata, ‘Engkau Musa yang dipilih Allah untuk menerima risalah dan firman-Nya, memberimu lauh-lauh yang di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu, dan mendekatkanmu untuk berkata-kata. Berapa lama kau mendapati Allah menulis Taurat sebelum aku diciptakan? Musa menjawab, ‘Empat puluh tahun’

Adam bertanya, ‘Apakah kau mendapati di dalamnya, ‘Dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya, dan sesatlah dia.’ (QS. Thaha:121). Kemudian Musa menjawab, ‘Iya’. Adam berkata, ‘Patutkah kau mencelaku karena perbuatanku yang telah ditulis Allah untukku untuk aku lakukan, empat puluh tahun sebelum Dia menciptakanku?’

Penjelasan
Kehidupan dunia penuh dengan keletihan dan kepayahan.
Allah SWT berfirman, “Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al Balad:4)

Kepayahan ini nampak dalam setiap urusan, karena satu suap makanan saja baru bisa didapatkan seseorang setelah melalui upaya yang melelahkan. Seperti itu juga dengan minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Belum lagi segala hal yang dialami seseorang, seperti penyakit, tipu daya yang dilancarkan musuh atau teman, dan kadang gangguan muncul dari anak-anak dan keluarga.



Nabi Musa menghadapi beban berat Fir’aun dan pengikutnya. Ia melarikan diri dari Mesir menuju Madyan setelah membunuh Qibthi, dan menggembala kambing selama sepuluh tahun. Setelah Allah mengutusnya sebagai rasul, ia harus menghadapi beban berat Fir’aun, serta menghadapi pembangkangan, sikap durhaka, dan gangguan bani israil. Mungkin hal inilah yang menjadi bahan pikiran Nabi Musa ketika berdebat dengan Nabi Adam dan menganggap permasalahan yang dilaluinya dilakukan karena kesalahan Nabi Adam dulunya.

Hikmah

  • Orang yang berdiskusi harus mengetahui kelebihan teman diskusinya, Karena Musa dan Adam juga menyebutkan kelebihan teman diskusinya.
  • Diperbolehkan beradu argumentasi antara orang shaleh jika menemukan kesulitan
  • Hendaknya yang bersangkutan masing-masing mengetahui kelebihan lawannya.
  • Bantahan terhadap kelompok qadariyah bahwasanya suatu perkara sudah tetap dan tidak bisa diubah.
  • Penetapan sifat tangan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Bisa jadi suatu kemaksiatan melahirkan kebaikan.
  • Seseorang yang bertaubat dari kemaksiatan yang dilakukan karena unsur lupa atau tidak sengaja, tidak sepantasnya dilempari dengan celaan.
Komentar Pengunjung
BAGIKAN
Berita sebelumyaKisah Pengingkaran dan Lupanya Adam